Menelusuri Sejarah Asal Mula Seni Ukiran dari Jepara

Menelusuri Sejarah Asal Mula Seni Ukiran dari Jepara

KaryaBaruMandiri.com | Produsen Furniture Jati Berkwalitas,

Kali ini Kita Mencoba Menelusuri kisah sejarah asal usul seni ukir jepara dan alasan mengapa tidak sedikit penduduk di jepara memiliki kemahiran meng-ukir, ukir jepara. Ukiran Jepara adalah seni ukir khas yang berasal dari Jepara yang saat ini familiar dengan sebutan Kota Ukir, kemudian semakin dikenal sebagai Kota Ukir Dunia, dengan citra Kota Jepara “The World Carving Center”,
Hal ini dikarenakan banyak produk – produk ukir Jepara terkenal dan sangat disukai oleh banyak pencinta seni ukiran khas jepara baik dari dalamnegri bahkan hingga luar negeri.

Salah satu sumber cerita sejarah asal usul seni ukir jepara, meskipun tidak ada bukti sejarah otentiknya, kita dapat menyimak cerita legenda yang tidak sedikit diceritakan mengenai sejarah awal seni. Berikut ini terdapat sebuah kisah unik yang konon menjadi cerita sejarah asal mula timbulnya seni ukir di Jepara.

Kisah sejarah asal usul Seni ukir jepara ini menjadi suatu cerita dongeng yang banyak diceritakan orang tua kepada anaknya sejak dulu. Berikut ini cerita sejarah asal usul Seni ukir jepara nya. Pada zaman dahulu kala terdapat seorang pengukir dan pelukis dari Kerajaan Majapahit, di masa pemerintahan Raja Brawijaya bernama Prabangkara yang juga dikenal dengan sebutan Joko Sungging. Lukisan dan ukiran Prabangkara terkenal di semua pelosok negeri.

Hingga Suatu saat Raja Brawijaya berkeinginan mempunyai lukisan istrinya dengan suasana telanjang tanpa busana sebagai wujud rasa cinta sang raja terhadap isrinya. Sebab itu, Prabangkara dipanggil guna mewujudkan apa yang dimau sang Raja. Bagi Prabangkara, pasti hal ini cukup sulit, dikaernakan meski pun mengenal wajah sang istri raja, namun dia pastinya belum pernah melihat figur istri raja dengan tanpa busana.

Akhirnya seelah bekerja keras dengan imajinasinya, Prabangkara sukses mencipakan lukisan yang diinginkan. Tepati, disaat Prabangkara sedang istirahat, tiba – tiba saja terdapat seekor cicak yang buang tinja mengenai lukisan permaisuri tersebut, kotoran cicak itu pun kemudian mengering dan membentuk seperti tahi lalat.

Kemudian Raja bergembira dengan hasil karya Lukisan Prabangkara tersebut, karya lukisan yang lukisan yang indah , serupa aslinya. Sang raja kemudian meneliti lukisan itu dengan seksama. Ketika dia menyaksikan tahi lalat, raja pun murka. Raja mendakwa Prabangkara menyaksikan langsung permaisuri tanpa busana, dikarenakan tempat tahi lalatdilukisan serupa seperti kenyataan sebenarnya.

Kemudian Raja Brawijaya murka karena cemburu dan menghukum sang pelukis Prabangkara dengan cara mengikatnya di layang-layang, lantas segera menerbangkan layang – layang tersebut, yang melayang terbang sampai jatuh di belakang Gunung di daerah Jepara. Belakang Gunung tersebut kini dikenal bernama Mulyoharjo di Jepara. Di lokasi inilah lantas Prabangkara menetap dan mengajarkan ilmu mengukir untuk warga Jepara pada masa tersebut dan keahlian ukir penduduk di Jepara bertahan dan lestari serta terus berkembang hingga saat ini.

Sejarah perkembangan ukiran jepara lainnya yaitu pada kisah masa Kerajaan Kalinyamat, dimana arsitektur Jepara mengalami perkembangan arsitektur terutama dalam ukir – ukiran, tepatnya saat Tjie Bin Thang (Toyib) dan ayah angkat nya yakni Tjie Hwio Gwan pindah ke Jawa (Jepara). Dimana ketika Tjie Bin Thang (Toyib) menjadi raja di Kerajaan Kalinyamat, bergelar Sultan Hadlirin dan Tjie Hwio Gwan menjadi patih bergelar Sungging Badar Duwung.

Jika diartikan gelar Sungging Badar Duwung yakni ( sungging = “memahat”, badar = “batu”, duwung = “tajam”), dimana gelar sungging karena Badar Duwung ialah seorang yang berpengalaman dengan seni pahat dan ukir. Tjie Hwio Gwan ialah tokoh yang membuat dekorasi ukiran di dinding Masjid Astana Mantingan, Beliau yang mengajarkan kemahiran seni ukir untuk penduduk di Jepara. Di tengah kesibukannya sebagai mangkubumi Kerajaan Kalinyamat (Jepara), Patih Sungging Badar Duwung masih melakukan kegiatan mengukir di atas batu yang eksklusif didatangkan dari negeri Tiongkok, karena batu-batu dari Tiongkok tidak cukup mencukupi kebutuhan, maka warga Jepara memahat ukiran pada batu putih dan kayu.

Tjie Hwio Gwan mengajarkan seni pahat dan ukir untuk penduduk Jepara, dan hingga saat ini kita dapat melihat arsitektur Bangunan Kuno di Jepara banyak dihiasi ornamen-ornamen ukir, hasil karya warga Jepara yang memiliki ketrampilan seni pahat dan ukir.

Hingga saat ini keahlian seni pahat dan ukir penduduk jepara diwariskan turun temurun dan berkembang hasil karya ukir jepara dengan berbagai bentuk seperti patung ukirjepara, gebyok uikir jepara hingga produk furniture kayu ukiran khas Jepara yang sangat terkenal di seluruh dunia.

Demikian semoga bisa menambah refrensi kisah sejarah asal usul Seni ukir jepara dari blog KaryaBaruMandiri.com | Produsen Furniture Jati Jepara Berkwalitas.

Semoga Bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email anda tidak akan dipublikasikan. Required fields are marked *